Bagaimana Memilih Perkataan Yang Cocok

Posted: November 4, 2009 in Al-Qur'an

“Ajaklah orang-orang berbicara tentang hal-hal yang membuat mereka suka mendengarkannya, bukan hal-hal yang kau suka untuk menceritakannya.”

Kebanyakan dari kita ketika berbicara selalu memikirkan diri masing-masing tanpa peduli apakah sang pendengar menyukainya atau tidak. Pilihlah topik yang cocok untuk dibicarakan. Jika berbicara dengan seorang pemuda tentu akan berbeda bila kita berbicara dengan seorang kakek atau bahkan anak-anak. Oleh karena itu memilih perkataan yang pas adalah salah satu cara untuk meikat hati orang lain. Rasulullah selalu memerhatikan hal tersebut.

Suatu masa Nabi pernah berperang bersama-sama seorang pemuda yang bernama Jabir. Ayah Jabir terbunuh di Uhud dan meninggalkan saudara perempuan dan banyak utang. Nabi melihat Jabir bersama untanya begitu lambat. Kemudian Rasulullah memecut unta Jabir dengan pelan dan ternyata unta Jabir dapat berlari dengan kencang.
Ketika masalah dengan untanya selesai, Nabi ingin sedikit berbincang Jabir. Pemuda seperti Jabir biasanya sangat senang ditanya tentang pernikahan dan mencari kerja.
“Wahai Jabir, kau sudah menikah?” tanya Rasulullah.
“Sudah!”
“gadis atau janda?”
“Janda”
Rasulullah tampak kaget dan berkata,”Mengapa bukan gadis agar kalian dapat ‘bermain’?” canda Nabi.
“Wahai Rasulullah, ayahku terbunuh di perang Uhud. Ia meninggalkan sembilan saudara perempuan. Mereka tidak punya siapa-siapa selain aku. Karena itu, aku tidak mau menikahi gadis yang seusia mereka. Sebab bisa jadi akan menimbulkan banyak pertengkaran diantara mereka. Aku pun menikahi perempuan yang lebih tua agar bisa menjadi ibu bagi mereka semua.” jawab Jabir.
Rasulullah melihat Jabir sebagai pemuda yang rela berkorban. Kemudian Rasulullah berkata,”Wahai Jabir…”
“Ya Rasulullah?”jawab Jabir.
“Maukah engkau menjual untamu kepadaku?”
Jabir berpikir. Unta tersebut adalah satu-satunya miliknya. Namun ia takut untuk menolak keinginan Rasulullah.
“Baiklah wahai Rasulullah, berapa?” kata Jabir
“Satu dirham”
“Aku rugi wahai Rasulullah”
“kalau begitu, dua dirham”
“Tidak wahai Rasulullah. Aku rugi.”
penawaran terus -menerus berlanjut hingga akhirnya mencapai angka empat puluh dirham.
“Baik” kata Jabir dengan syarat ia masih tetap mengendarai untanya hingga Madinah.
“Baik” Rasulullah mengiyakan.
Sampai di Madinah, Jabir menurunkan barang-barangnya dri atas untanya untuk kemudian unta tersebut diserahkan kepada Rasulullah. Namun ternyata Rasulullah memberikan kembali unta tersebut kepada Jabir.
Jabir kembali kepada Rasulullah dan berkata,”Tidakkah engkau menginginkan unta ini wahai Rasulullah?”
“Apakah engkau melihatku tawar-menawar denganmu karena menginginkan untamu?” Maksudnya, aku menawar dengn harga rendah bukan karena menginginkan untamu, melainkan untuk mengetahui berapa aku harus memberimu uang yang bisa membantumu.

Sungguh luar biasa apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Semua yang dilakukannya tidak ia pelajari dari bangku kuliah atau penelitian bertahu-tahun. Itu semua merupakan karunia Allah terhadap hambanya. Kita bisa melihat bagaimana Rasulullah memikat hati seorang pemuda seperti Jabir. Rasulullah tidak secara terang-terangan berkata ingin membatu Jabir. Lebih dari itu ia ingin tahu seberapa banyak Beliau harus membantu Jabir. Subhanallah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s