FITRAH MANUSIA

Posted: Agustus 24, 2009 in Referensi

1. Pengertian fitrah manusia
Manusia diciptakan Allah dalam strultur yang paling baik diantara makhluk Allah yang lain. Struktur manusia teerdiiri dari unsur jasmaniah dan rohaniah atau unsur fisiologis.
Dalam unsur ini Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memilki kecenderungan berkarya yang disebut potensialitas. Yang menuurut pandangan Islam dinamakan “Fitrah”.
Kata fitrah berasal dari kata (fiil) fathara yang berarti “menjadikan” secara etimologi fitrah berarti kejadian,sifat semula jadi, potensi dasar, dan kesucian. Didalam mesjid ditemukan bahwa fitrah mempunyai arti yaitu sifat menyifati segalayang ada pada saat selesai diciptakan. (Ramayulis, 1994:2001)
Pengertian secara etimologi tersebut masih bersifat umum, untuk mengkhususkan artio fitrah, hendaklah perhatikan firman Allah SWT dalam Q.S Ar-Rum : 30:

“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan selurus-sleurusnya (sesuai dengan kecenderungan aslinya), itulah fitrah Allah. Yang Allah menciptakan manuysia diatas fityrah itu. Itulah agama yang lurus. Namun kebanyakan orang tidak mengetahuinya”
Adapun sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim adalah :

“Tiap-tiap anak yang dilahirkan dalam keadaanfitrah. Hanya bapak ibulah yang menjadikan Yahudi, Nasrani dan Majusi”.(H.R. Muslim)
Menurut Syahminan Zain (1986 : 5), bhahwa fitrah adalah potensi laten atau kekuatan yang terpendam yang ada dalam diri manusia, yang dibawanya sejak lahir. Sedangkan para ulama telah memberikan berbagai interpretasi tentang fitrah, seperti yang terekam dalam al-Qur’an dan Al-Hadits di atas. Berdasarkan interpretasi tersebut, Muzayyin menyimpulkan bahwa fitrah adalah suatu kemampuan dasar berkembang manusia yang dianugrahkan Allah kepadanya. Didalamnya terkndung berbagai komponen ppsikologi yang satu sama lain mentempurnakan bagi hidup manusia.
2. Pengembangan fitrah manusia
Para ahli pendidik muslim umumnya sependapat bahwa teori dan praktekkependidikan Islam harus didasarkanpada konsepsi dasar tentang manusia. Pembicaraan diseputar persoalan ini merupakan sesatu yang sangat vital dalam pendidikan. Tanp kejelasan konsep ini, pendidikan akan meraba-raba. Bahkanmneurut Ali Ashraf, pendidikan Islam tidak akan dapat difahami secara jelas tanpa terlebih dahulu memahami penafsiran Islam tentang pengemabntgan individu seutuhnya (Swamsul Nizar, 2002:21)
Banyak argumentasi yang dikemukakan oleh para ahli yang menafsirkan ayat-ayat Allah SWT dan Hadits Rasul mengenai makna fitrah.tiap-tiap formulasi yang dihasilkannya melalui kajian argumentasi yang kuat. Pemaknaan tentang konsep fitrah pada dasarnya ingin membuktikan hakikat yang dalam Islam tercermin dalam konsep fitrahnya. Konsep fitrah yang disodorkan Islam tentang hakikat manusia tentunya akan berbeda dengan konsep fitrah. Menurut kristen yang menyatakan bahwa manusia lahir dengan seperangkat dosa warisan, yakni dosa asal yang diakibatkan prebuatan adam. Kemudian dilain pihak para pemikir barat yang menciptakan aliran behaviorisme dalam psikologinya memandang bahwa manusia terlahir tidak mempunyai kecenderungan baik maupun buruk (netral), yang kemudian teori ini dikenal dengan Tabula Rasa.
Isalam mempunyai pandangan tersendiri tentang konsep manusia, hal ini terekam dalam ayatnya yang kemudian menimbulkan beberapa penafsiran diantara pemikiran Islam, Firmannya itu adalah Q.S Ar-Rum : 30 :

Maka hadapkanlah waajahmu kepadaaama dengan selurus-lurusnya (sesuai dengan kecenderungan aslinya). Itulah fitrah Allah yang Allah menciptakan manusia diatas fitrah itu. Itulah agama yang lurus. Namun kebanyakan orang tidak mengetahuinya
.
Dalam sebuah hadits fitrah diungkapkan dalam berbagai bentuk dan makna. Salah satu hadits yang mengungkapkan fitrah manusia (hakikat manusia) yaitu hadits yang berbunyi :

“tidaklah anak itu dilahirkan kecuali atas dasar fitrah (bakat). Maka ayah ibunya yang menjadukan anaknya Yahudi, nasrani ataupun Majusi”. (H.R. Muslim: 458)

Para pemikir Islammencoba mengemukakan teorinya tentang fitrah daripenafsiranayatdan hadits tersebut diantaranya :
Fitrah berarti kesucian, menurut al-Auzal (1976), fitrah adalah kesucian dalam jasmaniah dan rohaniah, pemaknaan itu didukung oleh hadits Nabi SAW, sebagai berikut :

“Lima macam dalam kategori kesucian, yaitu berkhitan, memotong rambut, mencukur kumis, menghilangkan kuku, dan mencabut bulu ketiak”. (H.R. Bukhori dan Muslim).
Tapi bila dikaji dalam konteks pendidikan, kesucian pada hadits tersebut terlalu menekankan pada kesucian jasmania dan kurang memperhatikan kesucian jiwa, padahal pemknaan fitrah lebih diprioritaskan pada pemaknaan iwa. Sebagaimana dikatakan oleh Ismail Razi Al-Faruki bahwa : “manusia diciptakan dalam keadaan suci, bersih dan dapat menyusun drama kehidupan, tak pedulidi lingkungan, masyarakat, keluargamacam apapun, dosa asal dosawaris dan tanggung jawab penebusan, serta keterlibatan dalam rsial”. (Abdul Mujib, 1999:20).
Hasan Langgulung(1986:5) menyatakan bahwa, ketika allah menghembuskan/ meniupkan ruh pada diri manusia (pada proses keadian manusia secara nonfisik/immateril) maka pada saat itu pula manusia (dalam bentuk sempurna) mempunyai sebagian sifat-sifat ketuhanan sebagaimana yang tertuang dalam al-asma’ Husna. Hanya saja kalau Allahserba nmaha, sedangkan manusia hanya di beri sebagiannya. Sebagian sifat-sifat ketuhanan yang menancap pada diri manusiadan di bawanya sejak lahir, itulah yang disebut fitrah. Misalnya al-Alim (maha Mengetahui), manusia juga diberi kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan, al-Rahman dan al_rahim (Maha Pengasih dan Maha Penyayang), manusia juga diberi kemampuan untuk mengasihidan menyayangi, al-‘Afuw al-Ghofar (mahaPemaaf dan maha pengampun), manusia juga diberi kemampuanuntuk memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain, al-Khaliq (maha Pencipta), manusia juga diberi kemampuan untuk mengkreasikan sesuatu, membudayakan alam, al-Lhatif al-Khobir (Maha Lembut lagi maha mengetahui segalasesuatu yang tampak maupun tersembunyi), manusia juga diberi kemampuan/potensi untuk merahasiakan sesuatu atau dirinya dan kemampuan mengetahui fenomena sosial atau rahasia alam, al-Qadir (Maha Kuasa), manusia juga diberi kemampuan untuk berkuasa, Al-Adil (Maha Adil0, manusia juyga diberi kemampuan untuk berlaku adil, al-Marid (maha berkehendak), manusia juga diberi potensi untuk berkehendak, mempunyai motivasi untuk berbuat, al-hadi (maha Pmberi petunjuk), manusia juga diberikemampuan untuk mendidikatau memberi pengajaran.
Menurut filsafat manusia, manusia itukebanyakan difahami secara konseptualsesuai dengan sudut pandang atau aliran kefilafatannya. Para ahli mengemukakan, siapa manusia itu, manusia adalah “homo mechanicus”, “homo erectus”’ “Homo Ladens” kesemuanya itu terutama mengenai susunan kodrat kejasmaniannya. (Abd. Halim Soebahar,2002:32).
Al-Qur’an dalam suatu ungkapan metaforik menyatakan bahwa kesjatian manusia tidak dilihat dari aspek fisik yang diciptakan dari tanah liat/lempung atau saripati tanah, seperti penciptaan Adam. Ternyata setelah penciptaan Adam mencapai kesempurnaan, Allah memerintahkan para malaikat dan iblis untuk sujud kepada adam. Keengganan atau penolakan Iblis memenuhi perintah Allah didasarkan pada pandangan bahwa ialebih mulia karena diciptakan dari api, yang menurutnya memliki unsur lebih tinggi, sementara Adam diciptakan dari tanah (simbol materil yang menunjukan kehinaan dan kerendahan). Namun demikian, Allah ternyata tidakmelihat pada bentuk fisiologis penciptaan manusia, tetapi pada kualitas yang disimbolkan dengan penguasaan Adam terhadap nama-nama benda (al-asma, simbol kualitas intelektualatau kesadaran akan dunianya.
Dari sudut pandang yang lebih substantif, yang membuat manusia endapat kualitas ahsanu taqwim (sevbaik-baik penciptaan), bukan hanya disebabkan kesempurnaan fisiologis-fisiologis seperti postur tubuh, keindahan dan kesmpurnaan, melainkan keseluruhan kepribadiannyayang meliputi kemampuan maknawinya baik intelektual, moral maupun spiritual. Dalam konteks kata insan. Kebernmaknaan hidup manusia akan bisa diperoleh apabila ia mampu mengaktualisasikan diriyamelalui aktivitas eik dan moral, ketajaman intelektualitas, keluasan visi kultural,dan kedekatan spiritual dengan allah.
Namun kenyataanya tidak semua manusia bethasil mencapaikualitas perkembangan seperti tersebut diatas, meskipun mempunyai potensi untuk mencapai tingkat kesadaran manuisian tertinggi. Kebanyakan manusia tertuju atau hanya sampai tingkat basyar, dimana kepuasan kehidupannya hanya diukurseberapa banyak ia mampu memenuhi kebutuhanbiologisnya.
Istilah pertumbuhan dan perkembangan meskipun saling melengkapi, sebenarnya mempunyai arti dan makna yang agak berlainan. Pertumbuhan mengandung arti adanya perubahan dalam ukuran atau fungsi-fungsi mental, sedangkan perkembangan mengandung makna pemunculan hal yang baru. Pada peristiwa pertumbuhan akan tampak adanyapenambahan jumlah atau ukuran dari hal-hal yang telah ada, sedangkan dalam peristiwa perkembangan akan tampak adanya sifat-sifatbaru, yang berbeda dari sebelumnya. Misalnyapohon manggayang semulanya kecil menjadi besar adalahperistiwa pertumbuhan. Anak ayam kecil menjadi anak ayam besar adalah peristiwapertumbuhan. Tetapi perubahan dari telur dengan sperma dalam kandungan ibu sampai menjadi anak adalahperistiwa perkembangan.
Meskipun demikian, antarakedua peristiwa, yaitu pertumbuhan dan perkembangan, harus ada keseimbangan yang sehat, kalau tidak,akan menimbulkan ketidak normalan atau menyimpangan-penyimpangan.
Dalam bidang pendidkan bagai bayi yang akan dilahirkan disarankan untuk menciptakan kondisi rumah tangga yang rukun dan damai. Keaaan itu dapat dicapai, misalnya dengan pengendalian diri. Janganlah berbuat jahat terhadap sesama ,manusia ataupun makhluk lain, karena tingkah laku orang tua selalu dikait-kaitkan dengan pertumbuhan bayi yang sedang dikandungnya.
Keutuhan terhadap pendidikan tersebut bukan sekedar untuk mengembangkan spek=aspek individualisasidan sosialisasi. Melainkan juga mengarahkan perkembangan kemampuan dasartersebut kepada pola hidup yang dihajatkan manusia dalam bidang duniawiyah dan ukhrawiyah, dalam bidang fisik/materil dan mental/spirityualyang harmonis. Oleh karena itu didalamapa yang disebut “keharusan pendidikan” itu sebenarnya mengandung aspek-aspek kepentingan yang antara lain dapat diterangkan sebagai berikut :
1. Aspek Pedagogis
Dalam hal ini manusiadipandang sebagai makhluk yang disebut “Homo educondum” yaitu makhluk yang harus dididik, oleh karena menurut aspek ini manusia dikategorikan sebagai “ianimal educabil” yaitu sebangsa binatang yang dapat dididik, sedangkan binatang selain manusia hanya dapat dilakukan “dressur” (dilatih sehingga dapat mengerjakan sesuatu yang sifatnya statis, tidak berubah).
Jadi disini pendidikan berfungsi memanusiawikan manusia yang dengan tanpa pendidikan sama sekali, manusia tidak dapat menjadi manusia sebenarnya.
2. Aspek Psikologis
Aspek ini memandang manusia sebagai makhluk yang disebut “psychophyisk netral” yaitumakhluk yang memilki kemandirian (selftandingness) jasmaniahnya dan rohaniah. Di dalam kemandirian itu. Manusia mempunyai potensi dasar atau kemampuan dasar (deposito) yang merupakan benih yang dapat bertumbuhdan berkembang.
3. Aspek sosiologis dan kultural
Aspek inilah yang memandang manusia bukan hanya “psycho-physiek netral”, akan tetapi juga “Homo Socius”yaitu makhluk yang berwatak dan berkemampuandasaratau tyang memilki gharizah (insting) untuk hidup bermasyarakat. Sebagai makhluk sosial itu manusia harus memliki rasa tanggung jawab sosial yang diperlukan dalam mengembangkan inyer-relasi (hubungan timbal balik) dan interaksi (saling pengaruh mempengaruhi) antara sesama anggotamasyarakat dalam kesatuan masyarakat beradab.
4. Aspek filosofis
Menurut pandangan filsafat, manusia adalah makhluk yang disebut Homo sapiens” yaitu makhlukyang mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan. Memang salah satu gharizah manusia adalah ingin mengetahui hal-hal yang belum diketahui yang disebut instink neugirig atau curiosity. Dengan instink ini maka ,manusia selalu cenderung untuk memperoleh pengetahuan tentang segalasesuatu di sekelilingnya.
Kemampuan inilahyang memberikan kemungkinan manusia untuk dapat dididik dan belajar, sehinggadapatmenangkap segala yang diajarkan. Pengertian yang telah dipahami itu kemudian menjadi suatu rangkaian pengertian yang berbentuk menjadi ilmupengetahuan yang dimilkinya. Dengan kata lain, dengan melalui proses belajar dan diajar, nmanusiapada akhirnyamenjadi makhluk yang berilmu pengetahuan. (Moh. Arifin, 1967:21).
Fitrah manusia sebagai anugerah Allah yang tak ternilai harganya, itu harus dikembangkan agar mausia dapat menjadi manusia yang sempurna (insan al-kamil). M.Natsir (1954), menyatakan bahwa pengemvbangan fitnah adalah salah satu tugas risalah yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW.
Setiap usaha pengembangan fitrah itu harus dilaksanakan secara sadar, berencana dan sistematis. Dan berkembang atau tidaknya fitrah-fitrah tersebut dan seimbang atau tidaknya, perkembangannya itu tergantung kepada usaha manusia itu sendiri. Dalam hal ini Allah berfirman dalam Q.S. Ae-Ra’du : 11

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa-apa yang ada padasuatu kaum. Prinsip mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka”.

Usaha manusia untuk mengembangkan fitrah-fitrah tersebut dilakukan dengan pendidikan. Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Didiklah anak-anakmu atas tiga perkara : 1. Mancintai nabimu. 2. Mencintai ahli rumahmu, 3.membaca Al-Qur’an, karena sipenghafal Al-qur’an didalam naungan Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naungannya beserta Nabi-Nya dan orang-orang suci-Nya”.

Jadi Hadits ini menyuruh mendidik (mengembangkan) tiga macam fitrah, yaitu fitrah bergama, fitrah kekeluargaan, dan fitrah intelek/agama (Syahminan Zain,1986:9).
3. Arah perkembangan manusia
Pada tataran ini, fitrah dilihat dari pengertian umum, sering difahami sebagai potensi yang bercorak keagamaan. Potensi keagamaan yang ada secara alami (fitrah majhullah), itulah yang menyebabkan manusia berkeinginan suci dan secara kodrati condong kepada kebaikan dan kebenaran (hanif). Dengan begitu sikap keberagamaan yang hanif akan memberikan kebahagian sejati, sabda Nabi, “Isebai-baik agama di sisi Allah adalah al-hanafiya al-samhah”, yaitu semangat mencari kebenaran dengan lapang dada, toleran, tidak sempit, tanpa kepanikan, dan tidak membelenggu jiwa. (Moh. Irfan, 2003;139).
Jika fitrah mengarhkan manusia melakukan pencarian, maka pemancaran keinginan kepada kebaikan, kebenaran, keadilan kesucian dan kasih sayang di pandu oleh hati nrani. Hati nurani adalah bentuk nyata dari kesadaran moral dalam kehidupan praktis manusia. Al-Qur’an menyebut hati nurani dengan suatu kesadaran moral mausia (Al-nafs al-lawwamah). Penyebutan al-nafs al-lawwamah sebgaai obyek sumpah oleh al-Qur’an menunjukan kesangat pentingan arti kata itu bagi manusia, sebab kesadaran moral adalah aspek asasi bagi kehidupan manusia dan kemanusiaannya.ia mengenai seluruh jiwa dan menyangkut kehidupan manusia secara keseluruhan. Ibarat pedang bermata dua, fitrah merupakan manusia dan secara esensial membedakannya dengan makhluk lain. Dan dengan memenuhi (tuntutan) hati nurani seseorang berada dalam fitrahnyadan menjadi manusia sejati. Namunsecara fungsional yang membuat manusia berkedudukan lebih tinggi dari makhluk lainadalah karena memilki kemampuan mangantisipasi dan memformat fenomena yang ada melalui fitrahnya dan kerangka nilai yang diserapnya untuk menciptakan kebudayaan. Karena itu, kemanusiaan manusia atau supremasi manusia ditentukan sejauhamania kerja, amal saleh dengan mendayagnukana segenap potensi yang dimilki untuk menciptakan kebudayaan yang berkualitas (ahsanu ‘amalan), bukan karena status formalnya sebagai khalifah dumuka bumi ini. (Tobroni;1994).
Di dalam Al-Qur’an juga dinyatakan bahwa manusia temasuk makhluk yang siap dan mampu mengemban amanah tersebut ketika ditawari oleh Allah, sebaliknya makhluk yang lain justru enggan menerimanya atau tidak siap dan tidak mampu mengemban amanah tersebut, sebagaimana firman Allah dalam Q>S Al-Ahzab; 72 :

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipukullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia amat dhalim dan bodoh”

Melalui ayat tersebutbahwa tugas hidup manusia yang merupakan amanah dari Allah itu pada intinyaada dua macam, yaitu ‘abdullah (menyembah atau mengabdi kepada Allah), dan Khalifah Allah, yang keduanya harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Tugas hidup manusia sebagai abdullah merupakan realisasi dari mengemban amanah dalam arti memelihara beban/tugas-tugas kewajiban dari Allah yang harus dipatuhi, kalimat la ilaaha illla Allah atau kalimat tauhid, dan atau marifah kepada Allah. Sedangkan khalifah Allah merupakan realisasi dari mengemban amanah dalam arti memelihara, memanfaatkan, atau mengoptimalkan penggunaan segala anggotabadan, alat-alat potensial (termasuk indra dan akal0 ataupotensi-potensi dasarm,anusia, guna menegakan keadilan, kemakmuran dan kebahagiaan hidup. (Muhaimin. 2002:21).
Dari uraian tersebut paling tidak ada 29dua) impilkasi terpenting dalam hubungannya dengan pendidikan Islam, yaitu :
1. Karena manusia adalah makhluk yang merupakan reultan dari dua komponen (materi dan immateri), maka konsepsi itu menghendaki proses pembinaan yang mangacu ke arah realissasi dan pengembangan komponen-komponen tersebut. Hal ini berarti bahwa sistem pendidikan Islam harus dibangun diatas konsep kesatuan (integrasi) antara pendidikan Qlbiyah dan Aqliyyahsehingga mampu menghasilkan manusia muslim yang pintar secara intelektual dan terpuji secara moral. Jika kedua komponen itu terpisah atau dipisahkan dalam proses kependidikakkn Islam, maka manusia itu terpisah atau dipihakan dalam proses kependidikan Islam, maka manusia akan kehilangan keseimbangannya dan tidak akan pernah menjadi pribadi-primadi yang sempurna (al-insan al-kamil)
2. Al-quir’an menjelaskan bahwa fungsi penciptaan manusia dialam ini adalah sebagai khalifah dan ‘abd. Untuk melaksanakan fungsi ini Allah membekali manusia dengan seperangakat potensi. Dalam konteks ini maka pendidikan Islam harus merupakan upaya yang ditujukan ke arah pengembangan potensi yang dimilki manusia secara maksimal sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk kunkrit, dalam arti berkemampuan menmciptakan sesuatuyang bermanfaat bagi diri, masyarakat dan lingkungannya sebagaui realisasi fungsi dan tujuan penciptaannya, baik sebagai khalifah maupun ‘abd.
Kedua hal diatas harus menjadi acuan dasar dalam menciptakan dan mengembangkan sistem pendidikan Islam masa kini dan masa depan. Fungsionalisasi pendidikan Islam dalam mencapai tujuannya sangat bergantung pada sejauh mana kemampuan umat Isl;am menterjemahkan dan merelaisasikan konsep filsafat penciptaan manusia dan fungsi penciptaannyadalam alam semesta ini. Untuk menjawab hal itu, maka pendidikan Islam dijadikan sebagai sarana yang kondusif bagi proses transformasi ilmu pengetahuan dan budaya Islamdari satu generasi kepada generasi berikutnya.dalam konteks ini difahami bahwa posisi manusia sebagai khalifah dan ‘abd menghendaki program pendidikan yang menawarkan sepenuhnya menguasaio ilmu pengetahuan secara totalitas, agar manusia tegar sebagai khalifahy dan taqwa sebagai substansi dan aspek ‘abd. Sementara itu, keberadaan manusia sebagai resultan dari dua komponen (materi dan immateri)menghendaki pula program pendidikan yang sepenuhnya mengacu pada konsep equilibrium, yaitu integrasi yang utuh antar pendidikan aqliyah dan qalbiyah.
Agar pendidikan umta berhasil dalam prosesnya, maka konsep penciptaan manusia dan fungsi penciptaannya dalam alam semesta harus sepenuhnya diakomodasi dalam perumusan teori-teori pendidikan Islam melelui pendekatan kewhyuan, empirik keilmuan dan rasional filosofis. Dalam hal ini harus difahami pula bahwa pendekatran keilmuan dan rasional filosofis. Dalam hal ini harus difahami pula bahwa pendekatan keilmuandan filosofis hanya merupakan media untuk menalar pesan-pesan Tuhan yang absolut, baik melalui ayat-ayat-Nya yang bersifat tekstual (Qur’aniyah), maupun ayat-ayat-Nya yang bersifat kontekstual (Kauniyah) yang telah dijabarkan-Nya melalui sunnatullah. (Samsul Nizar, 2002:22)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s